Berita Kampus

25 November 1945 menjadi awal sejarah bagi  para guru di Indonesia sebagai peran fundamental dalam menentukan nasib bangsa melalui penguatan pendidikan masyarakat. Melalui Kongres Guru Indonesia, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan. Kemudian, melalui Keputusan Presiden Soeharto Nomor 78 tahun 1994, ditetapkan Hari lahir PGRI pada tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tahun. 27 tahun sejak peringatan Hari Guru Nasional, Indonesia menghadapi ragam dinamika sosial dan perkembangan teknologi yang turut mengiringi perubahan di setiap perjalanan sistem pendidikan Indonesia, termasuk tenaga pendidik sebagai tonggak utamanya. Lantas, bagaimana kita memaknai peran guru di tengah perkembangan teknologi komunikasi saat ini?

Guru Masa Kini

Menjadi seorang guru di masa kini bukanlah hal yang mudah, terutama dalam menghadapi para generasi Z maupun generasi alpha. Dua generasi muda yang notabene sebagai digital native menjadi generasi dominan di Indonesia saat ini. Berdasarkan hasil sensus 2020, komposisi penduduk Indonesia sebesar 27,94% merupakan generasi yang lahir antara tahun 1997 sampai dengan 2012, atau yang disebut sebagai Generasi Z/Gen Z (Rakhmah, 2021). Adapun generasi alpha yang lahir setelah tahun 2010, digadang-gadang akan menjadi generasi terbanyak secara global (McCrindle, 2019). Dominasi kedua generasi tersebut bukan sesuatu yang dapat diabaikan begitu saja dan tidak menjadi pertimbangan besar bagi para guru, bahkan mewujud sebagai tantangan tersendiri.

Generasi yang paling akrab dengan teknologi digital tersebut memiliki karakter yang cerdas, kreatif, dan multitasking. Di sisi lain, mereka cenderung lemah dalam kemampuan mengelola stres dan labil karena menerima terpaan informasi serta kondisi yang cepat berubah dan serba acak. Dengan kondisi tersebut, penting bagi guru untuk memahami karakteristik anak didiknya.

Para guru harus senantiasa bersabar dalam menyampaikan ilmu. Bersabar dan berlapang dada merupakan sebuah keharusan. Setiap guru mempunyai visi dan misi untuk mencerdaskan bangsa. Sehingga,  guru cenderung terlalu protektif kepada semua siswa terutama pada siswa yang melanggar peraturan. Akibatnya, seorang guru akan memberikan hukuman kepada siswa yang melakukan pelanggaran tersebut. Perbuatan ini tidaklah salah, akan tetapi pemilihan hukuman sebaiknya dipertimbangkan terkait capaian yang intinya dapat memberikan efek jera kepada siswa tanpa menggunakan kekerasan. Akan tetapi, tidak jarang kita menemukan suasana kelas yang hidup dan menyenangkan yang dilakukan oleh guru untuk membuat siswa betah berlama-lama dalam belajar dan berdiskusi.

Hal yang menjadi impian siswa adalah ketika guru selalu membuat suasana kelas menyenangkan, nyaman, tidak membosankan, mengubah suasana agar tidak selalu monoton, bahkan mengeluarkan bahasa-bahasa yang sedang trend untuk memberikan stimulus dan juga rangsangan agar membuat murid rileks, mengadakan games sederhana, memberikan motivasi, dan juga bahan ajar yang kreatif. Suasana ini merupakan sebuah keharusan yang dapat dilakukan oleh seorang guru untuk membuat para murid betah dan nyaman untuk belajar terutama saat pandemi melanda. Salah seorang guru pernah berkata kepada saya, "Sukai guru tersebut terlebih dahulu, maka kamu akan menyukai pelajarannya."

Seorang guru wajib tahu kemampuan setiap peserta didiknya, karena setiap karakter, sifat, dan kemampuan setiap siswa berbeda-beda. Bisa saja, seseorang yang tidak pandai dalam matematika, dia pandai dalam melukis atau sesuatu yang berbau seni. Setiap kemampuan dan kegemaran anak berbeda-beda. Jadi, guru hanya sebagai fasilitator, di mana guru hanya memberikan fasilitas dan ruang untuk siswanya berkreasi dan berpikir. Seorang guru memang harus memaksakan peserta didiknya untuk hal yang lebih baik, karena sesuatu hal yang dipaksakan belum tentu tidak baik. Semua guru pasti menginginkan anak didiknya mendapatkan ilmu serta pembelajaran yang baik, serta diterima dengan baik pula oleh siswanya. Karena setiap anak mempunyai kelebihan yang berbeda, maka dari itu tugas guru memotivasi dan mengarahkan serta menggali minat dan bakat siswa agar terus menggali kemampuannya dalam bidang tersebut. Di luar daripada itu, guru tidak bisa terlalu membebaskan siswa untuk terus mengikuti pelajaran yang hanya ia sukai, tugas guru pun wajib membimbing dan memberikan pengarahan serta masukan agar siswa tersebut juga menyukai pelajaran lain

Guru Merupakan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Ada pertanyaan mengenai apakah guru adalah seorang pahlawan? Padahal seorang guru tidak pernah menumpahkan darahnya. Namun kenyataannya tidak demikian. Seorang guru tidak harus menumpahkan darahnya untuk menjadi seorang pahlawan. Karena dengan beliau memberikan ilmu yang bermanfaat dan mendidik para siswanya, itu merupakan pekerjaan yang cukup berat. Apalagi, untuk memastikan mereka menjadi manusia yang bijak, berguna bagi nusa, bangga dan negara. Selain itu, ada juga 7 guru yang tercatat menjadi Pahlawan Nasional, loh. Jendral Soedirman merupakan salah-satunya.

Lalu untuk memperingati hari guru ini, apa yang harus kita lakukan?

Yang harus kita lakukan adalah memberikan penghormatan dan juga mendoakan yang terbaik untuk semua guru. Memberikan hadiah, dan juga ucapan selamat merupakan salah satu upaya untuk merayakan. Berterima kasih sebanyak-banyaknya, sebab tanpa mereka. Kita mungkin, tidak bisa menjadi seperti kita yang sekarang. Kita bahkan, belum bisa menjadi manusia yang memanusiakan manusia.. Karena guru bisa menjadi orang tua kedua saat di sekolah, namun tidak semua orang tua bisa menjadi guru.

Begitu panjang proses yang harus dijalani sehingga terbentuk bukti nyata bahwa guru adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Selamat memperingati hari guru, untuk seluruh pahlawan super tanpa magicnya.

 

* penulis Neng Selviana, mahasiswa Akuntansi, Institut Manajemen Wiyata Indonesia.

Tags: Law, Juggement, lawyer, Cases