header-int

IMWI MENGGAET FOKAL UI MENYELENGGARAKAN DIALOG KEBANGSAAN MENGHADAPI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Minggu, 03 Nov 2019, 09:56:11 WIB - 267 View
Share
IMWI MENGGAET FOKAL UI MENYELENGGARAKAN DIALOG KEBANGSAAN MENGHADAPI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Sabtu, 2 Nopember 2019, bertempat di Kampus Institut Manajemen Wiyata Indonesia, Sukabumi, diselenggarakan Dialog Kebangsaan bertema “Membangun Insan Indonesia Cerdas Komprehensif di Era Revolusi Industri 4.0”.

Istilah revolusi industri digunakan berkenaan dengan terjadinya perubahan besar pada cara manusia menghasilkan/memproduksi sesuatu. Revolusi industri 1.0 ditandai dengan penemuan mesin uap yang digunakan sebagai tenaga penggerak mesin, menggantikan penggunaan tenaga otot (baik tenaga manusia maupun tenaga hewan), tenaga air, dan tenaga angin untuk menggerakkan apapun.

Revolusi industri 2.0 ditandai dengan pemanfaatan energi listrik, peralihan sistem produksi dari sebelumnya “satu orang mengerjakan seluruh rangkaian proses produksi” menjadi sistem “assembly line” atau sistem “lini produksi” dengan menggunakan “ban berjalan” atau “conveyor belt”, dimana contohnya dalam proses produksi mobil tidak ada lagi satu tukang yang menyelesaikan satu mobil dari awal hingga akhir (pernah terjadi dari akhir tahun 1800-an sampai dengan tahun 1912), para tukang diorganisir untuk menjadi spesialis, cuma mengurus satu bagian saja, misal memasang ban saja, dimana sesuai kebutuhan pada waktu itu akan produksi secara massal sehingga sistem produksi yang lama yang dianggap memiliki kelemahan besar dan tidak lagi efektif harus direvolusi.

Bila revolusi industri 1.0 dipicu oleh mesin uap, dan revolusi industri 2.0 dipicu oleh ban berjalan dan listrik, maka revolusi industri 3.0 dipicu oleh mesin yang bergerak, yang berpikir secara otomatis, yang umum kita sebut ia sebagai komputer dan robot. Komputer menggantikan manusia sebagai operator dan pengendali lini produksi. Macam-macam mesin diciptakan dengan bentuk dan fungsi yang menyerupai bentuk dan fungsi manusia. Komputer menjadi otaknya, robot menjadi tangannya, pelan-pelan fungsi pekerja kasar dan pekerja manual menghilang. Di negara-negara maju revolusi ini mengubah masyarakat, dari sebelumnya mengandalkan sektor manufaktur menjadi mengandalkan sektor jasa seperti perbankan, perfilman, IT, dll sebagai motor ekonomi mereka. Mereka berubah dari ekonomi industri menjadi ekonomi informasi.

Revolusi industri 4.0 yaitu sebagaimana sedang berlangsung saat ini. Revolusi industri 4.0 ditandai dengan digunakannya big data, internet of things (IoT) dan artificial intellegence (AI) untuk menopang kehidupan masyarakat. Peran manusia terus tergantikan oleh robot-robot cerdas dalam melakukan suatu pekerjaan. Jutaan pekerjaan lama yang semula mapan, yang semula diandalkan oleh kakek-nenek bahkan ayah-ibu kita akan menghilang. Jutaan pekerjaan baru yang tak terpikirkan oleh kita akan muncul. Bagaimana Indonesia mempersiapkan SDM Indonesia yang unggul untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 ini? Itulah yang menjadi pertanyaan untuk kemudian dibahas bersama dalam Dialog Kebangsaan pada kali ini.

Acara diawali dengan seluruh peserta bersama-sama menyaksikan rekaman video Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat ini, bapak Nadiem Makarim saat menjadi narasumber pada peringatan Hari Oeang di Kementerian Keuangan (saat itu beliau masih menjabat CEO Gojek). Beliau menyampaikan ada beberapa hal yang wajib hukumnya (mandatory) harus dimiliki oleh SDM Indonesia supaya mampu bersaing atau setidaknya memiliki kesempatan untuk bersaing dengan dunia global. Beberapa hal tersebut harus dikuasai dan wajib dipelajari di sekolah dan perguruan tinggi.

Yang pertama adalah bahasa Inggris. Bahasa Inggris menjadi bahasa yang digunakan untuk mengkonsumsi bahasa konten dunia melalui online atau lainnya. Kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni dari peserta didik dan generasi muda Indonesia akan memberikan peluang bagi mereka untuk mencari pengetahuannya sendiri, belajar secara mandiri, melatih keterampilan berpikir kritis, kreatif, memiliki kemampuan dalam pemecahan masalah, kemampuan komunikatif, dan kolaboratif.

Yang kedua adalah bahasa coding atau pemrograman. Generasi muda Indonesia perlu dibekali kemampuan coding atau pemrograman sehingga mampu untuk mengembangkan dan membangun dunia virtual. Dunia virtual erat kaitannya dengan era digital yang saat ini sangat berkembang dan pesat.

Yang ketiga adalah statistika. Peserta didik dan generasi muda Indonesia hendaknya dibekali kemampuan membaca, memahami, dan menganalisa data. Di era digital, data menjadi bagian penting yang dapat berbicara tentang banyak hal. Bila tidak dibekali dengan kemampuan membaca data dan menganalisa data secara kritis, maka bisa saja generasi muda Indonesia terus dikibulin oleh data atau setidaknya tidak mendapatkan manfaat dari data.

Yang keempat adalah psikologi. Unsur dari desain, web dan aplikasi semuanya berkaitan dengan psikologi. Bagaimana kita membangun hubungan atau menjawab kebutuhan costumer atau supplier di dalam platform kita memerlukan kemampuan memahami psikologi.

Bertindak selaku moderator pada Diskusi Kebangsaan kali ini adalah Dr. Kun Nurachadijat, seorang founder organisasi Visi Merah Putih, Sekjen DPP PARFI, dan Dekan FEB Universitas Binawan. Sedangkan para narasumber yaitu yang pertama Dr. Ryan Kurniawan, Rektor Institut Manajemen Wiyata Indonesia (IMWI) dan Ketua Ikatan Dosen Republik Indonesia (IDRI). Narasumber kedua adalah Rudi S Kamri dari Forum Koordinasi Lintas Fakultas Alumni Universitas Indonesia (FOKAL UI).

Bapak Dr. Ryan Kurniawan dalam pemaparannya menyampaikan bahwa memang kemampuan minimal (yang bersifat mandatory) sebagaimana disampaikan oleh bapak Nadiem Makarim harus dimiliki oleh setiap generasi muda Indonesia menuju generasi muda berkarakter unggul. Berkarakter unggul maksudnya adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, dan berwatak, memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, membebaskan diri dari perilaku destruktif, dalam hal ini sebagaimana yang marak berkembang di kalangan kelompok mahasiswa saat ini, salahsatunya pengaruh paham dan ideologi radikal.

Radikalisme di perguruan tinggi merupakan ancaman serius bagi keutuhan NKRI. Kampus-kampus negeri semakin rawan terkena dampak ajaran intoleransi dan radikalisme. Pemerintah perlu melakukan deteksi terhadap kampus-kampus negeri untuk memastikan mereka masih dan tetap “merah putih”. Mahasiswa di perguruan tinggi perlu dibekali pemahaman tentang bahaya dan dampak radikalisme, memiliki kewaspadaan terhadap provokasi dan hasutan, serta berjejaring dalam komunitas positif dan perdamaian.

Bapak Rudi S Kamri menawarkan yang dinamakan Manusia Pancasila. Manusia Pancasila yang melahirkan SDM Indonesia Unggul sebagai prasyarat Indonesia Maju. Pemerintah harus berani melakukan revolusi besar-besaran sistem pendidikan nasional dimulai dari tingkat pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai perguruan tinggi. Kurikulum berbasis budaya dan jati diri bangsa yaitu Pancasila harus diberlakukan berbarengan dengan materi mengasah kecerdasan otak dan spiritual.

Penumbuhan empati sosial sejak dini akan menghasilkan generasi manusia yang cerdas dan berkarakter Indonesiawi. Jati diri anak bangsa harus menjadi titik tolak untuk membentuk manusia Indonesia yang unggul dan berkarakter. Penanaman nilai toleransi dan penuh empati yang berbasis budaya harus menjadi perhatian utama.

Sila-sila dalam Pancasila harus digunakan sebagai panduan untuk membentuk karakter manusia Indonesia. Nilai-nilai kultural Pancasila harus mampu diterjemahkan dalam tata nilai kehidupan yang disesuaikan dengan zaman dan peradaban manusia Indonesia. Pada akhirnya apabila kita mampu mencetak Manusia Pancasila kita akan mampu berselancar ke era kemajuan teknologi tanpa kehilangan jati diri sebagai anak bangsa yang berkarakter Indonesiawi.

Acara Dialog Kebangsaan ini dihadiri oleh mahasiswa, dosen, perwakilan organisasi kepemudaan dan organisasi kemasyarakatan lainnya, praktisi, serta perwakilan dari unsur pemerintahan. Acara ditutup dengan menyanyikan bersama-sama lagu Bangun Pemudi Pemuda dan Hymne IMWI, serta pembagian buku dari Forum Koordinasi Lintas Fakultas Alumni Universitas Indonesia (FOKAL UI) yang disampaikan langsung oleh Ketua FOKAL UI, ibu Pande K Trimayuni.

imwi Institut Manajemen Wiyata Indonesia (IMWI) berdiri sejak tahun 2014 dengan izin dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sebelum beralih menjadi Kemenristek dan DIKTI no. 505/E/0/2014. IMWI menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi Institut di Kota Sukabumi.
Program Studi (S1) : Manajemen (S.M) | Akuntansi (S.Ak) | Administrasi Bisnis (S.Ab)| Ilmu Komunikasi (S.I.Kom) | Sistem Informasi (S.Kom) | Desain Komunikasi Visual (S.Ds)
kuliah-dengan-akses-kerja|Tempat-kuliah-di-sukabumi|mahasiswa-berpestasi|kuliah-bergensi-di-sukabumi|kuliah-sukabumi|imwi-akses-kerja|mahasiswa-akses-kerja-imwi
© 2019 Institut Manajemen Wiyata Indonesia Follow IMWI : Facebook Youtube