Berita Akses Kerja

Tahun 2020-2030 Indonesia akan berpeluang menikmati masa demografi. Saat tersebut jumlah penduduk usia produktif yang berusia 15-64 tahun lebih besar dibanding penduduk usia tidak produktif. Pada periode tersebut, diprediksi penduduk usia produktif berjumlah dua kali lipat dari usia tidak produktif, atau mencapai 64% dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. 


Peluang ini hanya terjadi satu kali, dan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bonus demografi ini dapat dinikmati Indonesia apabila penduduk usia produktif memanfaatkan energi yang dimiliki untuk berkarya, berkiprah, berkontribusi secara produktif. Sehingga bonus demografi ini menjadi peluang bagi Indonesia dalam mendorong perekonomian dimasa mendatang. Disisi lain, Indonesia dihadapkan pada permasalahan masih tingginya angka pengangguran terdidik. 


Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikeluarkan pada Februari 2019, menunjukan pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 5,01% atau 6,8 juta dari angkatan kerja 136,2 juta dan Jawa Barat menjadi provinsi dengan angka pengangguran tertinggi sebesar 7,7%. Data dari BPS juga menunjukan perbandingan tingkat pengangguran pada Agustus 2014 - Agustus 2018, lulusan SMK mengalami penurunan dari 9,15% menjadi 7,95%, lulusan Diploma 1 dan Diploma 3 mengalami penurunan dari 6,14% menjadi 6,02%. Kenaikan tingkat pengangguran terjadi pada lulusan sarjana dari 5,65% mengalami kenaikan menjadi 5,89%. Artinya lulusan perguruan tinggi yang bergelar sarjana semakin meningkat tingkat penganggurannya, semakin banyak penganggur terdidik. Di Indonesia lulusan perguruan tinggi mencapai 350 ribu orang setiap tahunnya. Dan pertumbuhan perusahaan di Indonesia termasuk pesat, setiap tahunnya muncul 498.000 perusahaan rintisan.

 

Jumlah dari perguruan tinggi bertambah, namun tidak semua lulusan perguruan tinggi dapat terserap di dunia kerja. Lapangan pekerjaan untuk lulusan perguruan tinggi meluas, tetapi banyak yang tak mampu memenuhi persyaratan kerja yang sudah ditetapkan sehingga perusahaan tidak bisa menerima pelamar kerja meskipun pelamar sudah memiliki gelar sarjana. Hal ini disebabkan tidak memiliki keterampilan dan pengalaman kerja. Jangan sampai bonus demografi ini kita lewatkan dan menjadi bumerang untuk Indonesia, bukannya mendapat bonus demografi malah mendapat bencana demografi nantinya. Kesempatan demografi bisa dicapai jika Indonesia memiliki SDM yang maju. Beberapa hasil penelitian banyak yang merekomendasikan kepada pemerintah dan penyelenggara Pendidikan untuk membenahi sector Pendidikan nasional. Hal ini menjadi early warning, pembelajaran dan pendidikan harus menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan pasar kerja dan industri.

 

Dalam rangka membantu berbagai pihak untuk mengurangi pengangguran terdidik di Indonesia, Jawa Barat khususnya di Sukabumi, IMWI hadir memberikan solusi. IMWI menggulirkan Program Akses Kerja yang bekerjasama dengan beberapa perusahaan dalam penyaluran tenaga kerja. Melalui program ini mahasiswa didorong memasuki dunia kerja sebelum lulus sarjana. Program Akses Kerja ini diberikan kepada mahasiswa IMWI yang sudah duduk di semester 7, sehingga nantinya mahasiswa sudah memiliki pengalaman kerja ketika lulus sarjana. 

 

Pada program ini mahasiswa diakseskan untuk memperoleh posisi ke perusahaan-perusahaan relasi IMWI yang bergerak di berbagai sektor, seperti lembaga keuangan, jasa, manufaktur, RS dan perhotelan. Biasanya peserta program akan meraih posisi pekerjaan yang sesuai dengan minat, bakat dan passion masing-masing. Program ini dapat membantu mahasiswa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passion dan menerapkan ilmu pengetahuan yang sudah mahasiswa dapatkan.

 

Pimpinan kampus membentuk bagian khusus untuk mengelola program tersebut, yaitu dengan membentuk IMWI Career Centre, yang juga berperan dalam pengembangan karir bagi perserta didik yang telah lulus sarjana, mewadahi para peserta didik yang telah lulus sarjana lewat Wiyata Alumni Association yang berperan untuk memberikan mentoring kepada mahasiswa IMWI. 


Penulis : Nur Asiah
Mahasiswa Prodi Akuntansi

Tags: Law, Juggement, lawyer, Cases