Berita Kampus

Mengenal Disabilitas atau Difabel

Penulis: Bambang Somantri, S.E., M.M.

Dosen Program Studi Manajemen Institut Manajemen Wiyata Indonesia

 

Kita sering mendengar istilah disabilitas dan difabel pada saat ini, baik secara langsung atau melalui media. Terlebih lagi setiap tanggal 3 Desember merupakan Hari Disabilitas Internasional. Hari Disabilitas atau Difabel Internasional disponsori oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 1992 dan diperingati setiap tanggal 3 Desember. Peringatan tersebut memiliki maksud agar wawasan masyarakat umum meningkat yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang terjadi dalam kehidupan para penyandang disabilitas.

Hal tersebut bertujuan agar masyarakat umum dapat memberikan dukungan untuk meningkatkan martabat, hak, dan kesejahteraan para penyandang disabilitas.  Disabilitas dan Difabel sendiri merupakan kata dari bahasa Inggris “different ability” yang berarti kemampuan berbeda. Tampaknya kedua kata tersebut merupakan suatu istilah yang menggambarkan keterbatasan seseorang dalam melakukan aktivitas tertentu. Meski secara garis besar kedua kata tersebut sama, ada sedikit perbedaan di antara keduanya. Terkadang, salah dalam menempatkan kata-kata tersebut dapat menimbulkan pemahaman yang berbeda.

Apabila diperhatikan dengan lebih seksama, bahwa yang dimaksud dengan istilah disabilitas adalah ketidakmampuan seseorang dalam melakukan suatu aktivitas tertentu dalam kehidupannya. Sebagai contoh ada beberapa kategori disabilitas yang biasa kita kenal, misalnya: (1) Disabilitas fisik, ini merupakan gangguan gerak yang menyebabkan tidak dapat berjalan; (2) Disabilitas sensorik, ini merupakan gangguan pendengaran atau penglihatan; (3) Disabilitas intelektual, ini merupakan gangguan berpikir; (4) Disabiltas mental, berupa fobia, depresi, skizofrenia, atau gangguan kecemasan; dan lain-lain.

Sedangkan yang dimaksud istilah difabel adalah suatu ungkapan yang lebih halus untuk menggambarkan kondisi seseorang yang mengalami disabilitas. Difabel lebih mengacu kepada keterbatasan peran seorang penyandang disabilitas dalam melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari karena ketidakmampuan yang dialami. Dengan demikian, seorang yang difabel bukanlah tidak mampu melakukan kegiatan sehari-hari, namun hanya kemampuannya yang terbatas dalam melakukan aktivitas tertentu. Dalam melakukan aktivitas sehari-hari kondisi seorang difabel dapat diperbaiki dengan alat bantu khusus, yang dapat membuatnya jadi mampu melakukan aktivitasnya lebih baik atau seperti kondisi normal. Untuk membantu para penyandang disabilitas atau difabel dapat beraktivitas dengan baik, tentu saja peran orang-orang terdekat sangatlah penting, baik bantuan secara fisik maupun mental.

Demikian pula peran pemerintah yang diharapkan akan lebih banyak membantu dari aspek peraturan, dana, atau fasilitas umum, dan fasilitas sosial. Beberapa undang-undang yang dibuat PBB dan Pemerintah Indonesia untuk penyandang disabilitas atau difabel yaitu: (1) Resolusi PBB Nomor 61/106 tanggal 13 Desember 2006. Tentang Penyandang Disabilitas; (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat; (3) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia; (4) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial; (5) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Memerhatikan undang-undang yang dibuat pemerintah tersebut dapat disimpulkan bahwa pemerintah peduli kepada penyandang disabilitas atau difabel. Atas dasar itu pemerintah telah menyediakan berbagai fasilitas umum atau fasilitas sosial. Bahkan saat ini sudah banyak event-event khusus, seperti lomba-lomba di berbagai bidang, diantaranya lomba-lomba olahraga dalam tingkat nasional dan internasional. Memahami hal itu tentu kita sebagai sesama dengan penyandang disabilitas atau difabel perlu memberikan dukungan dan ruang dalam aktivitas sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan tinggi sudah memberikan ruang dan kesempatan bagi para penyandang disabilitas atau difabel. Sehingga para penyandang disabilitas atau difabel dapat berkembang dan berkontribusi dalam masyarakat untuk kemajuan bangsa dan negara kita tercinta, Indonesia!

 

*Tulisan ini dimuat pula dalam Koran Radar Sukabumi, 4 Desember 2021.

Tags: Law, Juggement, lawyer, Cases